
Tentang Seni, Budaya, dan Ikon Banjarnegara
Seni, budaya, dan ikon suatu daerah merupakan identitas sekaligus jati diri masyarakatnya. Ketika berbicara tentang identitas daerah, sesungguhnya kita sedang membicarakan akar sejarah, karakter budaya, dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur. Karena itu, penting bagi masyarakat Banjarnegara untuk kembali menemukan identitas yang perlahan mulai terlupakan oleh perkembangan zaman.
Tahun 2024 menjadi momentum penting bagi Banjarnegara. Kabupaten ini telah memasuki usia ke-453 tahun sejak berdiri sebagai bagian dari Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun yang sama pula, Banjarnegara melaksanakan kontestasi politik pemilihan kepala daerah yang ke-30.
Di usia yang demikian matang, Banjarnegara semestinya sudah mampu mendeklarasikan kembali identitas dan jati dirinya. Pertanyaannya, apa sebenarnya seni, budaya, dan ikon khas Banjarnegara?
Pertama: Tentang Kesenian Rakyat Banjarnegara
Melalui kajian sejarah, literasi budaya, serta diskusi dengan berbagai kalangan — mulai dari seniman, budayawan, tokoh spiritual, hingga para aktivis — ditemukan satu kesenian rakyat yang tumbuh dan berkembang begitu kuat di Banjarnegara dan Nusantara.
Kesenian tersebut adalah Embeg atau yang juga dikenal dengan nama Ebeg, Jathilan, Kuda Kepang, maupun Kuda Lumping.
Kesenian rakyat ini telah hidup sejak zaman dahulu, melewati berbagai periode sejarah bangsa: mulai dari masa kerajaan, kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi dan generasi milenial saat ini. Hebatnya, kesenian ini tidak pernah hilang ditelan zaman.
Di Banjarnegara sendiri, pada tahun 2024 tercatat lebih dari 300 kelompok kesenian Embeg. Jumlah ini bahkan melampaui jumlah desa dan kelurahan di Kabupaten Banjarnegara yang berjumlah 278 wilayah. Fakta ini menunjukkan bahwa hampir seluruh lapisan masyarakat Banjarnegara memiliki kedekatan emosional dan kecintaan terhadap kesenian tersebut secara turun-temurun.
Kesenian Embeg dicintai oleh semua kalangan: anak-anak, remaja, pemuda, orang tua, hingga para sesepuh desa. Hingga hari ini, belum banyak kesenian rakyat lain yang memiliki daya hidup dan kekuatan sosial sebesar Embeg di Banjarnegara.
Memang, kesenian serupa juga ditemukan di berbagai daerah di Pulau Jawa bahkan Nusantara. Namun, dengan kekuatan tradisi dan jumlah komunitas yang begitu besar di Banjarnegara, sudah selayaknya daerah ini berani mendeklarasikan Embeg sebagai salah satu kesenian rakyat yang tumbuh dan berkembang sangat kuat di Banjarnegara.
Ke depan, pemerintah daerah perlu menemukan ciri khas yang menjadi pembeda antara Embeg Banjarnegara dengan daerah lain. Salah satunya melalui festival Embeg asli khas Banjarnegara. Inilah yang nantinya dapat menjadi identitas budaya sekaligus nilai jual pariwisata Banjarnegara di tingkat nasional maupun internasional.
Kedua: Tentang Budaya dan Ikon Banjarnegara
Dalam pembahasan mengenai budaya, yang dimaksud bukanlah menciptakan budaya baru, melainkan menggali kembali budaya warisan leluhur Banjarnegara yang telah hidup sejak dahulu.
Budaya tersebut adalah budaya Cablaka atau Blakasuta — budaya berbicara apa adanya, jujur, terbuka, tanpa tedeng aling-aling. Karakter komunikasi ini disampaikan dengan gaya khas Banyumasan atau gaya Baworan yang hangat, lugas, dan penuh guyonan.
Budaya Cablaka atau Blakasuta sendiri merupakan warisan budaya masyarakat Banyumas Raya atau eks-Karesidenan Banyumas yang meliputi empat kabupaten: Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.
Selama ini, simbol Bawor beserta senjata kudinya telah lebih dahulu digunakan oleh Kabupaten Banyumas sebagai ikon daerah. Lalu muncul pertanyaan: apakah daerah lain di wilayah Banyumas Raya boleh menggunakan simbol yang sama?
Jawabannya tentu boleh, karena budaya tersebut memang merupakan warisan bersama masyarakat Banyumas Raya. Namun demikian, setiap daerah tetap perlu memiliki karakter pembeda agar tidak kehilangan identitas khasnya sendiri.
Karena itu, pemilihan simbol atau ikon daerah tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Sebuah ikon harus memiliki nilai filosofis, nilai sejarah, dan hubungan yang kuat secara sosial maupun kultural dengan kehidupan masyarakatnya.
Secara historis, banyak peradaban besar lahir dan berkembang di sekitar aliran sungai. Begitu pula Banjarnegara, yang kehidupannya sangat lekat dengan Sungai Serayu. Sungai ini telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat sejak dahulu hingga sekarang. Bahkan sumber mata air Sungai Serayu sendiri berasal dari Tuk Bima Lukar.
Selain itu, Banjarnegara juga memiliki kekayaan sejarah dan budaya dari kawasan Dataran Tinggi Dieng yang telah dikenal hingga tingkat nasional dan internasional. Salah satu peninggalan bersejarah yang berada di wilayah Banjarnegara adalah Candi Bima di kawasan Dieng.
Dari dua kekuatan besar inilah — Sungai Serayu dan warisan budaya Dieng — muncul sebuah simbol yang dinilai layak menjadi ikon Banjarnegara, yaitu BIMA.
Nama BIMA dianggap memiliki keterkaitan historis, filosofis, dan kultural yang kuat dengan kehidupan masyarakat Banjarnegara. BIMA dapat menjadi simbol pembeda yang berkarakter, sekaligus merepresentasikan kekuatan sejarah dan budaya Banjarnegara.
Meski demikian, budaya Cablaka atau Blakasuta tetap menjadi ruh masyarakat Banjarnegara. Gaya komunikasi baworan yang hangat, terbuka, dan penuh guyonan tetap menjadi warna khas dalam kehidupan sosial masyarakatnya.
Banjarnegara, 02 Juli 2024
Sekjend Aliansi Wargo Hutomo
Wahono