
Banjarnegara memiliki segala syarat untuk tumbuh menjadi salah satu kota pariwisata unggulan di Indonesia. Kekayaan alam, sejarah, budaya, hingga potensi wisata lokal yang tersebar di berbagai wilayah menjadi modal besar yang tidak dimiliki semua daerah.
Pertanyaannya bukan lagi “apakah Banjarnegara bisa menjadi kota pariwisata?”, melainkan “seberapa serius kita menyiapkan masa depan itu?”
Mengapa Banjarnegara Sangat Layak Menjadi Kota Pariwisata?
Sebuah daerah dapat berkembang menjadi kota pariwisata apabila memiliki kekuatan destinasi wisata berdaya ungkit di berbagai level: internasional, nasional, regional, hingga lokal.
Dan Banjarnegara sebenarnya sudah memiliki fondasi tersebut.
1. Memiliki Destinasi Wisata Berkelas Internasional
Salah satu syarat utama sebuah daerah menjadi kota pariwisata adalah memiliki minimal satu destinasi wisata yang dikenal hingga tingkat dunia.
Banjarnegara telah memiliki itu: kawasan wisata Dieng.
Dieng bukan sekadar tempat wisata biasa. Kawasan ini memiliki perpaduan lengkap antara keindahan alam, sejarah, budaya, dan fenomena geologi yang langka. Di sana terdapat kompleks candi kuno, kawah aktif, telaga, panorama pegunungan, hingga tradisi budaya masyarakat yang telah dikenal luas.
Nama Dieng bahkan sudah menjadi salah satu ikon wisata Indonesia di mata dunia. Kehadiran Dieng menjadi pintu utama yang sangat kuat untuk menarik wisatawan mancanegara datang ke Banjarnegara.
Ini adalah modal besar yang tidak boleh disia-siakan.
2. Memiliki Potensi Wisata Berdaya Ungkit Nasional
Selain destinasi internasional, sebuah kota pariwisata juga membutuhkan minimal dua destinasi wisata yang memiliki daya tarik nasional.
Banjarnegara saat ini telah memiliki satu kekuatan besar, yaitu wisata arung jeram Sungai Serayu.
Rafting Sungai Serayu bahkan dikenal sebagai salah satu dari tujuh lokasi arung jeram terbaik di Indonesia. Sungai Serayu memiliki karakter arus yang menantang, panorama alam yang indah, serta jalur pengarungan yang panjang dan menarik bagi wisatawan pecinta olahraga air.
Namun demikian, Banjarnegara masih membutuhkan setidaknya satu lagi destinasi wisata berdaya ungkit nasional agar posisi sebagai kota pariwisata semakin kuat.
Untuk mewujudkan destinasi berskala nasional tersebut tentu membutuhkan keberanian, perencanaan matang, dan investasi besar. Diperkirakan kebutuhan anggaran minimal mencapai Rp500 miliar untuk membangun satu kawasan wisata unggulan yang benar-benar mampu menjadi magnet nasional.
3. Memiliki Potensi Wisata Regional Jawa Tengah
Pada level regional, Banjarnegara juga telah memiliki sejumlah destinasi yang cukup dikenal masyarakat Jawa Tengah.
Di antaranya adalah Kebun Binatang Serulingmas serta Bendungan Panglima Besar Jenderal Soedirman atau PLTA Mrica. Kedua lokasi ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan menjadi destinasi wisata keluarga, edukasi, hingga wisata alam.
Namun agar Banjarnegara semakin kuat sebagai kota pariwisata, dibutuhkan tambahan minimal dua destinasi wisata regional baru yang mampu menjadi daya tarik masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya.
Estimasi pengembangan satu titik wisata regional berkisar Rp250 miliar. Angka yang besar, tetapi akan menjadi investasi jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
4. Kekayaan Alam yang Belum Sepenuhnya Tergarap
Salah satu kekuatan tersembunyi Banjarnegara adalah banyaknya jurug atau air terjun eksotis yang tersebar di berbagai wilayah.
Jumlahnya lebih dari 10 titik, dengan karakter alam yang unik dan masih sangat alami. Beberapa di antaranya bahkan memiliki panorama yang tidak kalah indah dibanding destinasi wisata terkenal di daerah lain.
Jika dikelola secara serius — mulai dari akses jalan, fasilitas umum, promosi digital, hingga penguatan ekonomi masyarakat sekitar — jurug-jurug tersebut dapat menjadi magnet wisata alam yang luar biasa.
Di era media sosial saat ini, wisata berbasis alam dan keindahan visual memiliki peluang besar untuk berkembang pesat.
5. Wisata Lokal sebagai Magnet Kecil yang Sangat Penting
Selain destinasi besar, Banjarnegara juga memiliki banyak titik wisata lokal yang dikelola oleh Pokdarwis maupun pihak swasta.
Mungkin skalanya belum besar, tetapi keberadaan kantong-kantong wisata lokal ini sesungguhnya sangat penting. Mereka adalah magnet kecil yang dapat saling mendukung dan memperkuat ekosistem pariwisata Banjarnegara.
Ketika wisatawan datang ke Dieng, misalnya, mereka juga bisa diarahkan untuk mengunjungi wisata lokal lain di Banjarnegara. Dari sinilah perputaran ekonomi masyarakat akan tumbuh.
Pariwisata tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Kadang, kekuatan terbesar justru lahir dari banyak titik kecil yang bergerak bersama.
Saatnya Banjarnegara Membaca Peluang Masa Depan
Pariwisata bukan hanya soal tempat indah. Pariwisata adalah tentang bagaimana sebuah daerah mampu membaca peluang, mengelola potensi, dan membangun masa depan ekonomi masyarakatnya.
Banjarnegara memiliki hampir semua syarat untuk menjadi kota pariwisata besar di Jawa Tengah, bahkan Indonesia. Tinggal bagaimana keberanian pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat untuk bergerak bersama membangun arah tersebut.
Jika potensi-potensi ini mampu dikelola secara serius, terintegrasi, dan berkelanjutan, maka Banjarnegara bukan hanya akan dikenal sebagai daerah pegunungan biasa.
Tetapi akan tumbuh menjadi kota pariwisata yang hidup, kuat, dan membanggakan.
Banjarnegara, 28 mei 2026
Sekjend Aliansi Wargo Hutomo
Wahono, S.Pd